Cerita Pendek Kate Chopin "A Story of an Hour" Beserta Artinya
Cerita Pendek Kate Chopin "A Story of an Hour" Beserta Artinya

Cerita Pendek Bahasa Inggris Kate Chopin “A Story of an Hour” Beserta Artinya

Posted on

Cerita Pendek Bahasa Inggris Kate Chopin “A Story of an Hour” Beserta Artinya

Cerita Pendek Kate Chopin "A Story of an Hour" Beserta Artinya

Apakah Sahabat KBI gemar membaca cerita pendek berbahasa inggris? Jika iya, pasti sahabat KBI sudah akrab bukan dengan karya sastra dari salah satu penulis asal Amerika yakni Kate Chopin. Penulis wanita yang lahir pada tahun 1850 ini. Kate Chopin merupakan penulis Amerika yang produktif, salah satu karyanya yang terkenal cerita pendek yang berjudul “The Story of an Hour” atau dalam bahasa Indonesia yang berarti “Kisah satu jam”. Langsung saja simak cerita pendek yang menarik dibawah ini yah sahabat KBI 🙂


“The Story of an Hour” (English Version)

Knowing that Mrs. Mallard was afflicted with a heart trouble, great care was taken to break to her as gently as possible the news of her husband’s death.
It was her sister Josephine who told her, in broken sentences; veiled hints that revealed in half concealing. Her husband’s friend Richards was there, too, near her. It was he who had been in the newspaper office when intelligence of the railroad disaster was received, with Brently Mallard’s name leading the list of “killed.” He had only taken the time to assure himself of its truth by a second telegram, and had hastened to forestall any less careful, less tender friend in bearing the sad message.
She did not hear the story as many women have heard the same, with a paralyzed inability to accept its significance. She wept at once, with sudden, wild abandonment, in her sister’s arms. When the storm of grief had spent itself she went away to her room alone. She would have no one follow her.
There stood, facing the open window, a comfortable, roomy armchair. Into this she sank, pressed down by a physical exhaustion that haunted her body and seemed to reach into her soul.
She could see in the open square before her house the tops of trees that were all aquiver with the new spring life. The delicious breath of rain was in the air. In the street below a peddler was crying his wares. The notes of a distant song which someone was singing reached her faintly, and countless sparrows were twittering in the eaves.
There were patches of blue sky showing here and there through the clouds that had met and piled one above the other in the west facing her window.
She sat with her head thrown back upon the cushion of the chair, quite motionless, except when a sob came up into her throat and shook her, as a child who has cried itself to sleep continues to sob in its dreams.
She was young, with a fair, calm face, whose lines bespoke repression and even a certain strength. But now there was a dull stare in her eyes, whose gaze was fixed away off yonder on one of those patches of blue sky. It was not a glance of reflection, but rather indicated a suspension of intelligent thought.
There was something coming to her and she was waiting for it, fearfully. What was it? She did not know; it was too subtle and elusive to name. But she felt it, creeping out of the sky, reaching toward her through the sounds, the scents, the color that filled the air.
Now her bosom rose and fell tumultuously. She was beginning to recognize this thing that was approaching to possess her, and she was striving to beat it back with her will–as powerless as her two white slender hands would have been. When she abandoned herself a little whispered word escaped her slightly parted lips. She said it over and over under hte breath: “free, free, free!” The vacant stare and the look of terror that had followed it went from her eyes. They stayed keen and bright. Her pulses beat fast, and the coursing blood warmed and relaxed every inch of her body.
She did not stop to ask if it were or were not a monstrous joy that held her. A clear and exalted perception enabled her to dismiss the suggestion as trivial. She knew that she would weep again when she saw the kind, tender hands folded in death; the face that had never looked save with love upon her, fixed and gray and dead. But she saw beyond that bitter moment a long procession of years to come that would belong to her absolutely. And she opened and spread her arms out to them in welcome.
There would be no one to live for during those coming years; she would live for herself. There would be no powerful will bending hers in that blind persistence with which men and women believe they have a right to impose a private will upon a fellow-creature. A kind intention or a cruel intention made the act seem no less a crime as she looked upon it in that brief moment of illumination.
And yet she had loved him–sometimes. Often she had not. What did it matter! What could love, the unsolved mystery, count for in the face of this possession of self-assertion which she suddenly recognized as the strongest impulse of her being!
“Free! Body and soul free!” she kept whispering.
Josephine was kneeling before the closed door with her lips to the keyhold, imploring for admission. “Louise, open the door! I beg; open the door–you will make yourself ill. What are you doing, Louise? For heaven’s sake open the door.”
“Go away. I am not making myself ill.” No; she was drinking in a very elixir of life through that open window.
Her fancy was running riot along those days ahead of her. Spring days, and summer days, and all sorts of days that would be her own. She breathed a quick prayer that life might be long. It was only yesterday she had thought with a shudder that life might be long.
She arose at length and opened the door to her sister’s importunities. There was a feverish triumph in her eyes, and she carried herself unwittingly like a goddess of Victory. She clasped her sister’s waist, and together they descended the stairs. Richards stood waiting for them at the bottom.
Someone was opening the front door with a latchkey. It was Brently Mallard who entered, a little travel-stained, composedly carrying his grip-sack and umbrella. He had been far from the scene of the accident, and did not even know there had been one. He stood amazed at Josephine’s piercing cry; at Richards’ quick motion to screen him from the view of his wife.
When the doctors came they said she had died of heart disease–of the joy that kills.

“Kisah Satu Jam” (Versi Indonesia)

Mengetahui bahwa Nyonya Mallard menderita penyakit jantung, maka diperlukan kehati-hatian yang besar untuk memberitahukan padanya selembut mungkin mengenai kabar kematian suaminya.

Adalah saudaranya, Josephine, yang mengatakan kepadanya, dengan kalimat yang terpatah-patah, petunjuk terselubung yang terungkap sebagian. Teman suaminya, Richards, juga ada di sana, di dekatnya. Dialah yang sedari tadi berada di kantor surat kabar ketika berita mengenai kecelakaan kereta api diterima, dengan nama Brently Mallard yang berada di daftar teratas “tewas.” Dia perlu waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai kebenarannya dengan telegram kedua, dan telah bergegas untuk mencegah teman yang kurang berhati-hati dan kurang sabar dalam memikul berita menyedihkan.

Dia tidak mendengar ceritanya seperti kebanyakan wanita yang telah mendengarkan hal yang sama, dengan ketidakmampuan untuk menerima maknanya. Dia langsung menangis, dengan tiba-tiba, sehisteris mungkin, dalam pelukan saudaranya. Ketika badai kesedihan telah reda dengan sendirinya dia pergi ke kamarnya sendiri. Dia tidak ingin satu orang pun mengikutinya.

Di sana ada sebuah kursi lebar yang nyaman, menghadap ke jendela yang terbuka. Di situlah dia menjatuhkan badannya, ditekan oleh kelelahan fisik yang menghantui tubuhnya dan tampaknya mencapai ke jiwanya.

Dia bisa melihat melalui persegi terbuka itu, di depan rumahnya, puncak-puncak pohon yang kesemuanya bergetar dengan girangnya menyambut kehidupan baru musim semi. Harum nafas hujan bergerak di udara. Di jalan bawah sana seorang penjual sedang menangisi barang dagangannya. Not not dari sebuah lagu di kejauhan yang dinyanyikan seseorang sampai ke tempatnya samar-samar, dan ratusan burung pipit berkicau di atap.

Ada petak-petak langit biru yang timbul di sana-sini melalui awan yang telah bertemu dan menumpuk satu sama lain di barat yang menghadap ke jendelanya.

Dia duduk dengan kepalanya bersandar pada bantal kursi, tidak bergerak sama-sekali, kecuali ketika tangisan mencegat tenggorokannya dan menggetarkan tubuhnya, seperti seorang anak kecil yang menangis sampai tertidur lalu lanjut menangis dalam mimpinya.

Dia masih muda, dengan wajah yang terang dan tenang, yang garis-garisnya membuat kesan represi dan bahkan kekuatan tertentu. Tapi sekarang ada tatapan menjemukan di matanya, tatapannya itu menetap di sana, di salah satu petak-petak langit biru. Itu bukan tatapan merenung, melainkan menunjukkan penangguhan pemikiran cerdas.

Ada sesuatu yang datang ke arahnya dan ia menunggunya, dengan ketakutan. Apa itu? Dia tidak tahu, itu terlalu halus dan sulit untuk disebutkan. Tapi dia merasakannya, merayap dari langit, mencapai ke arahnya melalui suara, aroma, warna yang memenuhi udara.

Sekarang dadanya naik-turun dengan gaduh. Dia mulai menyadari hal yang mendekat untuk merasukinya ini, dan dia berjuang untuk mengalahkan itu dengan kehendaknya – sebagaimana tidak berdayanya kedua tangan putihnya yang ramping.

Ketika dia meninggalkan dirinya, seuntai bisikan kata keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka. Dia mengatakan itu berulang-ulang kali: “bebas, bebas, bebas!” Tatapan kosong dan rupa teror yang datang berbarengan dengan itu pergi dari matanya. Mereka tetap tajam dan cerah. Nadinya berdebar cepat, dan darahnya yang mengalir menjadi hangat dan membuat santai setiap inci tubuhnya.

Dia tidak berhenti untuk bertanya jika hal itu adalah sebuah ledakan suka cita yang tadi menghampirinya atau bukan. Sebuah persepsi yang jelas dan mulia memungkinkannya untuk mengabaikan sugesti yang sepele seperti itu.

Dia tahu bahwa dia akan menangis lagi ketika ia melihat tangan lembut dan ramah itu terlipat dalam kematian; wajah yang tampak tak pernah diisi dengan cinta pada dirinya, kaku, pucat, dan mati. Tapi dia melihat melampaui momen pahit itu, sebuah prosesi sepanjang tahun yang akan datang yang akan benar-benar menjadi miliknya. Dan dia membuka dan merentangkan kedua tangannya menyambut mereka.

Tidak akan ada orang yang hidup selama tahun-tahun mendatang; dia akan hidup untuk dirinya sendiri. Tidak akan ada hasrat kuat yang dapat membengkokkan niatnya dalam keteguhan buta seperti itu yang mana para laki-laki dan perempuan percaya bahwa mereka memiliki hak untuk memaksakan sebuah kehendak pribadi pada sesama makhluk. Sebuah niat baik atau niat kejam membuat tindakannya tampak tidak kurang berdosa saat dia memandangi hal itu dalam momen singkat pencerahan.

Namun ia mencintai suaminya – kadang-kadang. Seringkali tidak. Apa bedanya! Apa yang bisa dilakukan oleh cinta, misteri yang belum terpecahkan, dilibatkan dalam menghadapi kepemilikan penonjolan diri ini yang tiba-tiba ia akui sebagai dorongan terkuat keberadaannya!

“Bebas! Tubuh dan jiwa bebas!” dia terus berbisik.

Josephine berlutut di depan pintu yang tertutup dengan bibirnya ke lubang kunci, memohon untuk masuk. “Louise, buka pintunya! kumohon, buka pintunya – Kau bisa membuat dirimu sakit. Apa yang kau lakukan Louise? Demi Tuhan, buka pintunya.”

“Pergilah. Aku tidak akan sakit.” Tidak, dia sedang meminum obat kehidupan1 yang paling mujarab melalui jendela yang terbuka itu.

Khayalannya berjalan dengan ributnya di sepanjang masa depannya. Hari-hari di musim semi, dan musim panas, dan segala macam hari-hari yang akan menjadi miliknya. Dia memanjatkan doa singkat berharap kehidupannya menjadi panjang. Baru saja kemarin dia berpikir dengan gemetar bahwa kehidupan mungkin panjang.

Akhirnya Louise berdiri dan membukakan pintu atas permintaan saudaranya. Ada gelisah kemenangan di matanya, dan dia membawa dirinya sendiri, tanpa disadari, seperti dewi Kemenangan. Dia memegang pinggang saudaranya, dan bersama-sama mereka menuruni tangga. Richards berdiri menunggu mereka di lantai bawah.

Seseorang sedang berusaha membuka pintu depan dengan sebuah kunci2. Orang itu adalah Brently Mallard, sedikit kotor karena perjalanan, dengan tenang membawa kantong jinjingan dan payungnya. Dia telah jauh dari lokasi kecelakaan, dan bahkan tidak tahu kalau ada kecelakaan. Dia berdiri dengan heran melihat tangisan Josephine yang meraung-raung, juga pada gerakan cepat Richards yang menutupinya dari pandangan istrinya.

Tapi Richards terlambat. Ketika dokternya datang, dia berkata bahwa dia telah meninggal karena serangan jantung – kegembiraan yang membunuhnya.

Semoga Bermanfaat Sahabat KBI 🙂

Simak Juga Kumpulan Materi KBI Lainnya :